Spoiler alert : Artikel ini membahas beberapa bagian penting dari film The Whisper Man (2026) yang tayang di Netflix.
The Whisper Man merupakan film thriller kriminal besutan sutradara James Ashcroft yang diadaptasi dari novel Alex Croft dengan judul yang sama. Berdurasi hampir 2 jam, sayangnya film ini gagal menghadirkan sensasi deg-deg’an yang memicu rasa penasaran penonton. Alih-alih membuat penonton siaga di ujung kursi, The Whisper Man menemani penontonnya hingga ke alam mimpi.

Film ini punya semua bahan untuk membuat genre thriller: kota kecil yang panik, penculikan anak, pembunuh berantai, dan kasus lama yang bangkit dari kubur. Namun sayangnya semua bahan tadi gagal diramu menjadi kesatuan cerita yang utuh, baik, dan menarik. Beberapa bagian berjalan lambat karena terlalu banyak dialog, sedangkan scene yang berpotensi untuk dijadikan twist malah gagal mengejutkan penonton.
Walaupun tidak menarik secara visual, film ini secara eksplisit menghadirkan tema daddy issue yang justru lebih menarik perhatian, meskipun banyak film diluar sana yang menggunakan tema yang sama.
Isu Nyata : Luka Warisan
Tom Kennedy adalah seorang ayah tunggal sekaligus novelis kisah kriminal yang terkenal. Setelah isterinya meninggal, Tom membawa puterannya, Jake, ke sebuah kota kecil bernama Garetton. Di waktu yang bersamaan, kota tersebut sedang mengalami kepanikan akibat kasus anak hilang. Belum sempat memulai hidup baru yang normal, Jake menghilang. Tom yang kalut terpaksa meminta bantuan ayahnya, Pete Willis, yang tidak pernah ia temui selama 25 tahun terakhir. Pete Willis adalah pensiunan detektif yang bertahun-tahun sebelumnya berhasil memecahkan kasus kelam di kota tersebut, The Whisper Man.
Ada ironi yang hendak dibangun disini; sosok ayah yang berhasil menyelamatkan anak-anak dari monster penculik & pembunuh berantai malahan menjadi monster di rumahnya sendiri akibat kecanduan alkohol dan meninggalkan keluarganya.
Tom tumbuh besar tanpa kehadiran sosok ayah. Ia berusaha sekuat tenaga untuk tidak menjadi seperti ayahnya, namun tanpa sadar mengulang pola yang sama. Ia memang tidak meninggalkan keluarganya, tetapi kurang hadir secara emosional untuk puteranya terutama di masa duka, sehingga Jake makin terisolasi dan kesepian. Pada akhirnya, Tom terjebak dalam lingkaran setan yang berusaha ia putuskan sendiri dan menciptakan luka baru.
Mungkinkah Sebuah Kejahatan Juga Diwariskan?
Pertanyaan ini tentunya sering muncul dalam benak kita.
Kalau ayahnya maling, apakah otomatis anaknya jadi maling?
Jawabannya pasti belum tentu ya, karena kejahatan tidak begitu saja diwariskan... Banyak faktor penentu…
Tapi bagaimana dengan ‘luka’nya? Luka yang kemudian membentuk cara anak melihat dirinya sendirinya, memandang ayahnya, bahkan lingkungan sekitarnya?
Pertanyaan-pertanyaan semacam inilah yang secara halus hendak dijawab oleh The Whisper Man. Sebab terkadang, seorang anak tumbuh dalam kerinduan untuk memperoleh sesuatu dari apa yang tidak pernah diterimanya, seperti pengakuan, rasa hormat, dan kehadiran yang utuh.
Rekonsiliasi Di Tengah Krisis
Dalam The Whisper Man, hilangnya Jake memaksa Tom untuk berhadapan dengan masa lalunya sekaligus melihat dirinya apa adanya. Krisis memang selalu punya cara untuk mempertemukan hal-hal yang selama ini dihindari. Tom akhirnya dihadapkan pada sebuah pilihan: lari atau mengakui kekurangannya dan memperbaiki yang masih bisa diselamatkan. Rekonsiliasi bukan tentang mengubah masa lalu, tapi mengupayakan yang terbaik untuk keberlangsungan sebuah hubungan.
Penutup
Sejujurnya, film ini gak jelek-jelek amat. Respon kritikus profesional juga beragam.
Konsepnya kuat, aktor-aktris mumpuni (De Niro, Adam Scott, Michelle Monaghan, Michael Keaton), tapi ada bagian-bagian yang terasa tidak menyatu.
Meski dianggap biasa aja oleh sebagian besar ulasan profesional, film ini justru lumayan populer secara global di Netflix. Hal ini menegaskan bahwa universalitas tema serta karisma aktor mampu menembus kekurangan eksekusi naratifnya.
