Aku datang supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan.
Yohanes 10:10
Pernah gak kamu mengalami ini:
Bangun pagi langsung cek notifikasi,
seharian ngejer target,
ngerasa bersalah banget kalau sehari ‘gak produktif’.
Lalu,
di tengah situasi yang crowded tiba-tiba kamu ngerasa hampa.
Kamu ngerasa gak punya apa-apa di dalam lingkaran yang kelihatannya punya segalanya.
Kamu pikir:
butuh uang lebih banyak.
butuh liburan dan hiburan.
butuh validasi dari orang lain.

Tapi setelah semuanya itu kamu raih, rasa cukup itu tak kunjung datang…
Kamu tetap ngerasa kosong, kesepian… Dan kamu pun bertanya, “kenapa aku gak merasa bahagia?”
Salah Paham Tentang ‘Berkelimpahan’
Tiap hari kita disuguhi parade orang-orang yang memperlihatkan ‘kepemilikannya’.
Gadget up to date. Perawatan tubuh bonafit. Botol minum jutaan…
Seolah-olah nilai hidup kita ditentukan oleh price tag kasat mata yang menempel di tubuh kita.
Suguhan semacam ini mengubah pola pikir kita pelan-pelan.
Kita mengira bahwa ‘kelimpahan’ berarti ‘mempunyai lebih banyak’.
Lebih banyak pengakuan…Lebih banyak uang…Lebih banyak waktu…
Kita lupa bahwa hidup ini gak melulu soal kuantitas, tapi juga tentang kualitas.
Aku datang supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan.
Masing-masing dari kita punya pengertian sendiri tentang ‘hidup’ dan ‘kelimpahan’.
Namun, pernyataan Yesus ini menjadi pengingat sekaligus teguran bagi kita yang seringkali salah memaknai kehidupan.
Tuhan Yesus datang ke dunia agar kita mempunyai hidup;
hidup yang Tuhan maksud bukan hanya sekedar bernafas dan ‘jalanin aja’, melainkah hidup yang penuh ‘berkelimpahan’ dalam kasihNya.
Di dunia ini, hidup kita hanya sementara.
Namun, dalam ‘kesementaraan’ itu, Tuhan Yesus telah menunjukkan kepada kita bagaimana seharusnya kita menghidupi kehidupan.
Kelimpahan yang Gak Bisa Dibeli
Sekarang, mari kita diam sejenak…
Jika kamu punya satu kesempatan untuk mengembalikan ‘satu momen’ dalam hidupmu, apa yang mau kamu lakukan?
Sadar atau enggak,
kita sering kelewatan momen dalam hidup.
Kita pikir kita punya waktu, but it ends up we’re not.
Dengan menyadari bahwa ‘hari ini’ berharga, kita bisa melihat bahwa ‘kelimpahan’ itu justru hadir di setiap waktu.
kasih… damai… harapan… iman— yang tidak bisa dibeli, namun bisa kita terima.
Orang-orang yang kehadirannya menghibur jiwa kita, tanpa perlu mereka berbuat banyak.
Senyuman mama papa.
Khotbah Pastor yang merubah hidup kita.
Kelimpahan itu gak ada di rekening, tapi di dalam hati.
Dan sumbernya bukan dari dunia, melainkan Tuhan sendiri.
Ketika Tuhan Mengajar Tentang “Cukup”
Kamu sadar gak,
kalau yang ada pada kita sebenarnya bukan sepenuhnya milik kita?
Kadang-kadang pada situasi tertentu, Tuhan justru mengurangi ‘kepemilikan’ itu— bukan menambahkannya.
Bukan untuk menghukum, melainkan mendidik kita untuk merasa cukup.
Dia tahu:
hati yang terus merasa kurang gak akan pernah tenang.
Oleh karena itu, Dia menuntun kita pelan-pelan untuk menikmati kehadiranNya dalam kesederhanaan hidup.
Sesekali berhenti mengejar itu ternyata menyenangkan loh.
Refleksi: Menghidupi Kehidupan
Ada kata-kata yang terkenal dari Benjamin Franklin,
Most people die at 25 and aren’t buried until they’re 75.
I lost my youth day… I don’t even remember that I had a beautiful memories with my peers.
Dan aku rasa, banyak orang yang mengalami situasi semacam ini.
Entah ini sebuah kebenaran atau bukan, namun modernitas telah menggerus kemampuan manusia untuk enjoy a meaningful life.
Banyak orang di luar sana yang gak punya previledge untuk ‘bermain-main’ dengan kehidupan.
Ada orang yang karena situasi tertentu mematikan perasaannya hanya untuk bertahan hidup satu hari lagi di dunia.
Lalu, hidup yang bagaimana dan seperti apa yang Tuhan maksudkan untuk kita semua? Mungkinkah ‘hidup’ itu hanya untuk orang tertentu saja?
Ternyata, jawabannya ada di hadapan kita selama ini.
Hidup yang berkelimpahan itu bukan karena kita punya segalanya, tapi karena kita tahu Tuhan adalah segalanya.
Too cliche memang,
tapi lewat pengalaman dan orang-orang yang menceritakan kisahnya kepadaku, aku tidak pernah menemukan ketiadaan Tuhan di dalamnya.
Dan menurutku, inilah kelimpahan itu, yaitu Tuhan yang selalu ada dalam cerita hidup kita karena Dia menjadikan kita sebagai bagian dari DiriNya— sebab untuk itulah Dia datang.
21 Hari Jadi Pelaku Firman
Hari ini,
sebelum kamu minta Tuhan untuk menambahkan sesuatu di dalam hidupmu, coba syukuri terlebih dahulu yang sudah ada.
Mungkin saja,
kamu sudah hidup dalam kelimpahan.
Bukan karena semuanya sempurna,
tapi karena Tuhan sudah hadir dalam dirimu— dan itu sudah cukup.
