Menulis Artikel Rohani bagi Pemula: 3 Tips Menyentuh Hati Tanpa Menggurui

Tips menulis artikel rohani bagi pemula: mulai saja dulu, jangan menunggu sampai merasa cukup baik. Sebab, kebijaksanaan bukan tujuan yang harus dicapai sebelum menulis, melainkan buah dari pencarian makna sepanjang hayat—dari hati yang bersedia dibentuk oleh pengalaman dan diterangi oleh Sabda.

Semua penulis pasti pernah mengalaminya:
Duduk sendirian di depan laptop menatap kursor yang berkedip.  Mungkin sudah sejam atau seharian, bisa jadi berhari-hari, kalimat indah itu berhenti di alam ide.

Memberi wujud pada ide memang gak mudah; lukisan, patung, bahan ajar, cerpen, atau novel.
Dari pengalamanku, menemukan ide jauh lebih mudah daripada memberinya rupa.
Namun, inilah yang membuat proses kreatif menjadi sangat asyik sekaligus menantang.

Selama setahun terakhir, aku menekuni hal baru, yaitu menulis artikel rohani.  Sebagian besar tulisanku ada dalam catatan pribadi, sedangkan beberapa anak-anakku yang lain tersebar dalam konten-konten rohani.

Artikel rohani memiliki tingkat kesulitan yang berbeda.
Ada anggapan di luar sana bahwa penulis artikel rohani (sebut saja pewarta) harus memiliki pengetahuan yang mendalam tentang Kitab Suci. Menurutku, anggapan ini tidak sepenuhnya keliru.

Namun, aku lebih percaya bahwa seorang pewarta pertama-tama harus memiliki relasi dengan Allah, salah satunya melalui Kitab Suci, serta memiliki hati yang terbuka untuk mengenali gerak Sabda dalam hidupnya.

Sebab, keilmuan dapat terus dipelajari.  Tetapi, hati yang terbuka adalah sesuatu yang dibentuk melalui perjalanan hidup: melalui pengalaman, perjumpaan, pencarian, dan kesediaan untuk mendengarkan.

Kini tersisa satu pertanyaan: apakah ada tips menulis artikel rohani bagi pemula?

1.  Menulis Dari Pengalaman yang Dikenal

Salah satu kesalahan yang sering dilakukan penulis adalah merasa dirinya tidak cukup berpengalaman untuk menulis.  Padahal, manusia dibentuk oleh pengalaman hidupnya.  Setiap perjumpaan, kehilangan, kegagalan, dan pergumulan meninggalkan jejak yang membentuk cara kita memandang dunia.

AI mungkin bisa meniru manusia: gaya bahasa, cara bertutur, bahkan pembawaan.  Namun, pengalaman manusia bukan sekadar data.  Ini adalah cerita yang benar-benar dialami manusia.  Oleh karena itu, kecerdasan buatan tidak akan pernah menggantikan pengalaman manusia.  Ia dapat meniru cara kita bercerita, tetapi tidak bisa menjalani cerita itu untuk kita.

Jadi, salah satu tips menulis bagi pemula adalah mulailah menulis dari pengalaman yang kamu kenali: pengalaman yang kamu jalani, rasakan, dan gumulkan sendiri.
Seperti: patah hati, jatuh cinta, keputusan yang salah, kehilangan, bahkan kemenangan kecil.

Tips Menulis Artikel Rohani Bagi Pemula

Kemudian, bawalah pengalaman itu ke dalam doa.  Bukalah hatimu dan undang Roh Kudus untuk membantumu mengenali apa yang Tuhan ajarkan melalui pengalaman itu.  Menulis artikel rohani bukan sekadar menceritakan apa yang terjadi, melainkan menemukan makna di baliknya dalam terang Sabda.

Dan ketika pengalaman itu telah menjadi refleksi yang mungkin berguna bagi orang lain, jangan takut untuk membagikannya.  Bisa jadi, ceritamu menjadi jalan bagi seseorang untuk menemukan harapan.

2.  Berceritalah. Jangan Buru-buru Menasehati

Bayangkan…

Seseorang baru saja mengalami kehilangan.  Ia tidak sengaja menemukan blog/postinganmu untuk mencari sedikit penghiburan.  Namun, baru dua paragraf membaca, ia diminta untuk bersyukur dan menerima keadaan.

Di sinilah salah satu hal penting  yang perlu diperhatikan saat menulis artikel rohani: niat baik tidak selalu menghasilkan tulisan yang menguatkan.

Mengingatkan pembaca untuk berserah kepada Tuhan itu baik.  Namun, jangan terlalu cepat menarik kesimpulan tentang mereka.  Berikan ruang bagi pengalaman manusia: untuk sedih, kecewa, marah, bingung, bahkan untuk tidak mengerti tentang apa yang dialami.

Berceritalah.

Ceritakan bagaimana rasanya menggenggam tangan seseorang yang kamu cintai pada detik-detik terakhir hidupnya.
Gambarkan bagaimana rasanya saat hatimu ingin meledak karena tidak pernah menyangka Tuhan akan membawamu sampai pada titik itu.
Atau, dengan rendah hati, akuilah bahwa kamu pun memiliki pergumulan; secara teori dan moral, kamu tahu mana yang benar.

Tidak semua kisah memiliki closure.
Ada pengalaman yang menyisakan pertanyaan.
Ada luka yang membutuhkan waktu untuk sembuh.
Ada doa yang belum terjawab.

Dan ini tidak apa-apa.
Karena di situlah penulis artikel rohani menjadi teman seperjalanan.
Pengalaman kita mungkin berbeda, tetapi kita memiliki Tuhan yang sama.

Tuhan yang hadir dalam setiap musim kehidupan, yang siap menolong, menyertai, dan memulihkan kita pada waktu-Nya.

3.  Jangan Menunggu Sampai Merasa Cukup Rohani untuk Menulis

Sebelum menjadi penulis artikel rohani, aku adalah seorang cerpenis yang tidak segan menggunakan kalimat-kalimat tajam, bahkan brutal, untuk menggambarkan perasaan seorang tokoh atau suatu situasi.

Mungkin karena itu, ketika mulai menulis tentang iman, aku juga pernah bertanya pada diriku sendiri:

Bagaimana aku bisa menulis tentang kesabaran jika aku masih mudah marah?
Bagaimana mungkin aku bicara soal pengampunan jika masih ada kepahitan?
Bagaimana bisa mengajak orang lain membaca Alkitab, jika aku sendiri belum konsisten membacanya?

Pertanyaan-pertanyaan semacam ini layak direnungkan.  Namun, kita perlu membedakan antara kerendahan hati dan tuntutan untuk menjadi sempurna.

Menulis tentang iman tidak berarti kita lebih hebat daripada orang lain.  Ada kalanya justru tulisan-tulisan itu lahir dari pergumulan nyata yang sedang kita menangkan dalam nama Tuhan.

Tulislah dengan jujur.  Jangan menampilkan diri seolah-olah sudah selesai dengan pergumulanmu.  Sebab, tulisan rohani tidak lahir untuk membuat kita terlihat saleh.  Ia lahir dari kesediaan pribadi untuk mencari, mempelajari, dan mengusahakan kekudusan.

Hanya karena kita belum sampai, bukan berarti kita tidak bisa berjalan bersama orang lain.

Menulis Sebagai Bagian dari Perjalanan Iman

Pada akhirnya, menulis artikel rohani tidak selalu dimulai dari sebuah jawaban.  Terkadang, semuanya bermula dari pertanyaan yang belum selesai kita renungkan.

Kita menulis tentang pengampunan karena kita masih perlu belajar melepaskan kepahitan.
Kita menulis tentang harapan karena kita tahu rasanya kehilangan harapan.
Kita menulis tentang ketaatan karena kita tahu betapa rapuhnya kepercayaan manusia kepada Tuhan.

Pengalaman tidak serta-merta menjadikan kita ahli dalam kehidupan, khususnya dalam kehidupan rohani.  Namun, dari pengalaman tersebut kita belajar untuk jujur pada diri sendiri dan membiarkan Tuhan menuntun kita untuk memahami apa yang terjadi.

Tugas seorang penulis artikel rohani bukan memaksa orang lain untuk melihat Tuhan dengan cara yang sama seperti dirinya.  Tugas kita adalah membagikan apa yang telah kita renungkan dengan jujur, sehingga tulisan itu dapat menjadi ruang bagi orang lain untuk menemukan Tuhan dalam pengalaman hidup mereka sendiri.

Barangkali tulisanmu tidak langsung  mengubah siapa pun.  Mungkin hanya dibaca oleh teman-teman dekatmu.  Mungkin bahkan dibaca seadanya tanpa komentar.

Namun, kita tidak pernah tahu apa yang terjadi di dalam hati seseorang setelah ia selesai membaca.  Maka, jangan terlalu sibuk memikirkan seberapa besar dampak tulisanmu.  Tetapi tetaplah menulis dengan jujur dan serahkan sisanya kepada Tuhan. Sebab, menulis artikel rohani bukan hanya tentang menyampaikan iman kepada orang lain. Ia juga merupakan bagian dari perjalanan iman kita.

Mungkin hari ini tulisanmu hanya membantu kamu memahami dirimu sendiri.
Esok, siapa tahu, Tuhan memakainya untuk menolong seseorang agar kembali berdoa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *