Malam itu aku tidak langsung beranjak dari bangku bioskop.
Aku masih duduk cukup lama menyaksikan layar yang perlahan menggelap.
Ada sesuatu yang purba malam itu.
Ia datang dari kedalaman hati yang menjalar naik menuju ingatan.
Daniel and The Fiery Furnace membuka kembali sebuah pintu yang sudah lama tertutup: pintu menuju masa kecil ketika kisah-kisah Alkitab bukan sekedar tulisan yang kubaca, melainkan dunia yang benar-benar hidup di dalam imajinasiku.
Daniel and The Fiery Furnace: Saat Kisah Alkitab Menjadi Gambar yang Bergerak
Waktu kecil, kita mudah sekali berimajinasi.
Bantal guling menjadi tembok istana. Selimut menjelma markas ruang angkasa.
Kita bisa menjadi siapa saja dan pergi ke mana saja.
Waktu itu usiaku 7 tahun, saat pertama kali aku menggenggam Alkitab bewarna.
Aku membuka lembarnya yang mengilap itu pelan-pelan.
Hari demi hari buku yang berat itu menjadi kawanku.
Gambar warna-warni yang ada di dalamnya membawaku ke tempat yang tidak pernah kukunjungi: padang gurun, istana, medan pertempuran.
Tak jarang kisah-kisah itu terbawa ke dalam mimpi.
Aku terpukau… Banyak pertanyaan tapi tanpa keraguan. Hanya percaya.
Bertahun-tahun kemudian aku duduk di depan layar menyaksikan Daniel, Sadrakh, Mesakh, dan Abednego.
Kali ini bukan gambar yang diam. Tulisan itu bergerak dan memiliki suara.
Ada wajah-wajah yang berbicara dan api yang menyala-nyala.
Ada ketakutan dan keberanian.
Ada penghianatan dan ketaatan.
Dan tiba-tiba aku kembali menjadi anak yang berusia 7 tahun.
Duduk terpukau menatap layar; kisah yang dulu hanya hidup di halaman buku menjadi gambar yang hidup.
Aku terisak; kini ia menyentuh batin seorang perempuan dewasa, yang telah ditempa, digores, dan tidak lagi sesederhana dulu.
Kisah yang sama namun rasanya sangat berbeda.
Dulu, Daniel dan ketiga sahabatnya hanyalah tokoh dalam sebuah cerita.
Kini, aku melihat manusia.
Manusia yang takut tapi memilih setia.
Manusia yang sedang terancam tapi tetap memilih iman.
Manusia yang gak tahu bagaimana kisahnya akan berakhir tapi memilih tetap percaya kepada penciptanya.
Sadrakh, Mesakh, Abednego: Iman yang Dewasa
Manusia tumbuh.
Ia bertambah besar.
Tubuhnya berubah.
Pengalamannya bertambah.
Ia dibenturkan oleh kehidupan, lalu perlahan dibentuk olehnya.
Setiap musim meninggalkan jejak dalam jiwa: luka, pertanyaan, kehilangan, harapan, dan cara pandang.
Teks Kitab Suci tidak berubah.
Kata-katanya tidak berubah; kata terjemahan mungkin bisa berubah tapi itu pun mengikuti zaman.
Pesannya sama: Allah sangat mengasihi manusia.
Tetapi kita yang membacanya telah berubah.
Inilah sebabnya satu kisah yang sama dapat berbicara dengan cara yang berbeda pada setiap musim kehidupan.
Dulu, aku membaca tentang keberanian.
Kini aku mengerti bahwa rasa takut tidak benar-benar hilang, ia berjalan bersama keberanian.
Yang bisa kita lakukan adalah terus berjalan meski tangan dan kaki gemetar.
Dulu, aku membaca tentang mukjizat.
Sekarang aku belajar berserah dan mengizinkan Tuhan mengukir karyaNya dalam hidupku.
Dulu, aku melihat 3 pemuda pemberani yang menolak menyembah patung di hadapan raja.
Sekarang aku memandang iman yang dewasa.
Mereka tahu bahwa Allah sanggup menyelamatkan mereka dari api, namun mereka juga memahami bahwa iman tidak memberikan mereka hak untuk menentukan bagaimana Tuhan bertindak.
Pada momen itulah aku kembali menyadari bahwa iman bukan transaksi.
Dan disinilah iman kita bertumbuh: ketika kita tidak lagi menjadikan Tuhan sebagai jawaban atas keinginan kita dan mulai belajar mempercayakan hidup kita sepenuhnya kepadaNya.
Kala Tuhan Menjawab Doa Bukan Dengan Cara Manusia
Ada beberapa hal yang jarang kita bicarakan dalam kehidupan beriman.
Salah satunya hidup doa, yakni tentang kemungkinan bahwa doa kita terjawab dengan cara yang tidak kita inginkan.
Kita menyukai kisah kemenangan.
Kita suka pada karakter orang baik yang selamat dan musuh yang kalah.
Padahal realita kehidupan lebih rumit daripada yang ada di buku cerita.
Ada kisah yang tidak selesai.
Luka yang tidak pernah sembuh.
Pertanyaan yang tak kunjung terjawab.
Di sinilah iman kita diuji oleh ketekunan, bukan mukjizat.
Tetap berdoa.
Tetap berharap.
Tetap berbuat baik.
Tidak menyerah.
Tetap mengasihi.
Tetap mengampuni.
Bukan karena kita mempunyai jaminan bahwa semuanya akan terjadi sesuai keinginan kita, melainkan karena kita memilih untuk tidak membiarkan penderitaan dan kepahitan memengaruhi cara kita memandang kehidupan.
Anak Kecil di Dalam Diri
Daniel and The Fiery Furnace membuatku menangis.
Ada kesan akrab yang aku kenali sejak lama.
Aku seperti bertemu kembali dengan sosok anak kecil itu; yang duduk sendirian berjam-jam membaca Alkitab bergambar.
Anak kecil itu belum memahami konsep teologi, ekklesiologi, dan hermeneutika.
Ia belum mengenal penyesalan, duka, amarah, dan kekecewaan.
Yang ia tahu hanya kisah yang ada di dalam genggamannya, yang kala itu sangat menarik dan memenuhi dunianya.
Dahulu kisah-kisah itu terasa ajaib.
Sekarang aku belajar percaya dan menemukan keajaiban di dalam hidupku yang rumit.
Dahulu aku percaya bahwa Tuhan akan menyelamatkan.
Sekarang aku belajar bahwa keselamatan tidak berarti bebas dari penderitaan.
Setelah Layar Menjadi Gelap
Apa yang kubawa pulang setelah film Daniel and The Fiery Furnace selesai?
Aku pulang dengan rasa syukur dan penuh.