Ketika Gak Ada Yang Melihat

Who are you when nobody is watching?

Saat Masa Prapaskah tiba, biasanya langsung muncul pertanyaan klasik:
“Pantang apa tahun ini?”

Pantang ngeluh.
Stop kopi.
Ngurangin scroll media sosial.
Dll..

Wah, niat dan semangatnya keren banget.

Tapi sebelum list-nya makin panjang, ada satu hal penting yang perlu dipahami: kenapa sih kita berpantang dan berpuasa di Masa Prapaskah?

Dalam Gereja Katolik, puasa dan pantang bukan tren rohani musiman.
Sejak masa Gereja Perdana, jemaat sudah menjalani masa persiapan sebelum Paskah dengan berdoa dan puasa. Awalnya, laku rohani ini dijalani secara khusus oleh para katekumen yang akan dibaptis pada Malam Paskah sebagai persiapan untuk menyambut misteri wafat dan kebangkitan Kristus.

Menarikya, praktik rohani ini tidak berhenti di sana. Berkat bimbingan Roh Kudus, tradisi puasa dan doa berkembang menjadi laku pertobatan seluruh Gereja. Yang awalnya dijalani oleh calon baptis dan keluarganya (sebagai bentuk solidaritas), akhirnya menjadi laku umum yang dijalani oleh umat sebagai wujud pertobatan dan silih seperti yang kita kenal sekarang.

Jadi, ketika kita berpantang & berpuasa, kita bukan saja hanya menjalankan kewajiban rohani, tetapi juga ikut merenungkan Tradisi panjang Gereja.

Terkait pantang dan puasa, Gereja memberikan panduan yang jelas.
Puasa berarti makan kenyang satu kali dalam sehari pada Rabu Abu dan Jumat Agung. Yang wajib berpuasa adalah umat yang berusia 18 – 60 tahun.
Sedangkan pantang dilangsungkan pada Rabu Abu dan 7 kali hari Jumat selama masa Prapaskah. Yang wajib menjalani pantang adalah semua orang Katolik yang genap berusia 14 tahun ke atas.

Kelihatannya teknis ya? Terasa seperti aturan biasa.
Tapi di balik aturan ini ada sebuah makna yang ingin diajarkan oleh Gereja.
Gereja bukan sedang mengatur piring nasi kita, melainkan mendidik hati.

Dalam konstitusi apostolik PaeniteminiPaus Paulus VI menegaskan bahwa pantang dan puasa bukan sekedar ‘kewajiban’. Keduanya harus dijiwai semangat pertobatan.
Jadi, yang utama bukanlah apa yang dikurangi dari piring, tapi apa yang dibersihkan dari hati.
Dan di sinilah kita masuk ke level yang lebih dalampuasa yang tak terlihat.

Puasa jenis ini gak ada di kalender liturgi.
Gak ada yang mengawasi, nggak ada yang tahu.

Tuhan Yesus pun menasehati agar saat berpuasa, jangan melakukannya supaya dilihat orang. Artinya, nilai puasa bukan pada pengakuan manusia tapi relasi dengan Tuhan.

Bayangin nih, kalau Prapaskah tahun ini kita memberi sedikit tambahan pada puasa kita :
Puasa dari komentar sinis.
Puasa dari kebiasaan mengeluh.
Puasa dari membanggakan diri.
Puasa dari membuat asumsi.

Gak ada yang tepuk tangan, tapi karaktermu sedang dibentuk.

Kamu perlu ingat, Prapaskah punya 3 pilar : doa, puasa, dan amal kasih.
Puasa tanpa doa bisa jadi hanya diet rohani. Puasa tanpa kasih bisa berubah jadi kesombongan. Tapi ketika puasa dijalani dengan semangat pertobatan, di situlah perbaruan terjadi.

Kalau selama masa Prapaskah ini kamu belajar lebih sabar, walaupun cuma sedikit…
Lebih pelan dalam berbicara…
Lebih tulus dalam berbuat baik tanpa diumumkan.
Maka, buah-buah Paskah sudah nyata.

Pada akhirnya, laku tobat seperti pantang dan puasa tidak bertujuan agar terlihat lebih rohani. Melainkan tentang memupuk kesadaran bahwa kita adalah makhluk yang lemah dan membutuhkan Tuhan setiap saat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *