Setiap tahun kita memasuki masa Prapaskah dengan satu harapan besar :
“bebas dari penjara kasat mata yang mengukung hidup kita.”
Penjara tidak selalu kelihatan.
Ia bisa berupa banyak hal :
kemarahan yang tak terucapkan… kebiasaan lama yang sulit dilepaskan… atau keterikatan yang mencekik diam-diam.
Berbagai cara sudah dilakukan:
mengikuti Ekaristi lebih sering, konseling dengan Pastor, doa dan puasa, hingga menghadiri retret ‘pelepasan’.
Namun,
‘kebiasaan’ itu kembali lagi…
‘amarah’ itu semakin menjadi…
Dan kita menjadi frustasi; meringkuk sendirian di sudut penjara yang gelap, meratapi diri.
Kamu bukan orang pertama yang berusaha melepaskan diri dari keterikatan— penjara kasat mata.
Semua orang bergumul dengan dirinya, entah ia menyadarinya atau enggan mengakuinya.
8 tahun yang lalu, seseorang yang saya cintai diambil dari kehidupan ini.
Betul kata orang, kita tidak pernah benar-benar siap menghadapi kematian meskipun kita tahu ‘tamu’ itu akan datang juga pada akhirnya.
Duka membawa saya pada sebuah kesimpulan yang getir : semua orang bekerja keras untuk menutupi lukanya tanpa benar-benar mengobatinya.
Kepahitan dibalut dengan hal-hal manis yang memabukkan.
Kesepian ditutupi dengan kehadiran yang semu.
Perasaan tidak aman dibungkus dengan citra rohani yang tampak baik-baik saja.
Semuanya dilakukan untuk bertahan hidup tanpa benar-benar merasa hidup.
Barangkali di titik inilah Prapaskah menemukan maknanya yang paling jujur.
Masa Prapaskah bukan panggung rohani untuk membuktikan diri.
Siapa yang paling kuat berpuasa.. Siapa yang paling lama berdoa… Siapa yang list pantangnya paling banyak.
Melainkan, sebuah kesempatan untuk berhenti berlari dan menghadapi diri sendiri bersama Kristus.

Seringkali penjara kasat mata itu tidak terletak pada ‘kebiasaan’ itu sendiri, melainkan pada hal-hal yang enggan dilepaskan.
Kita sibuk memperbaiki perilaku, tetapi enggan menyentuh rasa sakit yang menjadi sumber kepahitan.
Gereja Katolik, melalui Sakramen Rekonsiliasi menghadirkan sebuah perjumpaan.
Dalam perjumpaan itu, kita diajak untuk melihat diri kita apa adanya.
Seorang anak yang telah melalui banyak hal dan ingin pulang kepada Bapanya, karena dari kedalaman dirinya Ia tahu bahwa Bapanya tidak akan membuangnya sebagaimanapun keadaannya.
Barangkali kebebasan itu telah kita peroleh, hanya saja bukan lewat usaha yang lebih keras, melainkan penyerahan diri secara total kepada Allah yang akan memulihkan keadaan kita.
Duka sepuluh tahun tidak sembuh dalam sekejap.
Ia tidak lenyap ketika saya keluar dari ruang pengakuan dosa.
Namun perlahan, lukanya berhenti mengeluarkan darah.
Duka dan perasaan negatif yang melekat padanya saya bawa ke hadapan Tuhan.
Tanpa pembenaran… Tanpa penyangkalan…
Saya bawa kemarahan, kesedihan, dan rasa bersalah itu ke bawah salib Kristus.
Seperti bayi yang ada di dalam kandungan ibunya, saya meringkuk di bawah kaki salib memohon belas kasih Allah dan kerahiman-Nya.
Di bawah salib itulah saya memperoleh kasih yang hanya bisa diberikan oleh Allah sendiri.
Masa Prapaskah tidak hanya mengajak kita untuk melepaskan sesuatu, tetapi untuk mempercayakan diri kita sepenuhnya ke dalam dekapan Allah.
Bukan hanya sekedar melepaskan kebiasaan lama, tetapi membangun keberanian untuk melangkah keluar sehingga hidup sungguh-sungguh diperbarui dalam terang Paskah Kristus.