Review Buku Yellowface: Ketika Kesuksesan Dibangun di Atas Kebohongan

    Review buku Yellowface. Artikel ini mengandung link affiliasi.

    Menurutmu, apa yang membuat seseorang layak meraih kesuksesan?
    Apakah bakat? kerja keras? atau keberuntungan yang datang di waktu yang tepat?

    Dari kecil kita dibuat percaya bahwa kesuksesan lahir dari kombinasi ketiganya. Namun, gimana jadinya kalau ada seseorang yang bisa mencapai puncak karena Ia tahu caranya memanfaatkan keadaan?

    Pertanyaan yang menggelitik bukan?
    Hal inilah yang membuat Yellowface karya RF Kuang terasa sangat mengganggu sekaligus memikat pembaca. Novel ini terasa begitu dekat dengan kehidupan sehari-hari, seolah-olah penulis hendak membongkar ‘kesuksesan’ yang menjadi harapan semua orang.

    Diterbitkan pertama kali tahun 2023, novel ini memiliki sudut pandang yang unik, yakni tidak ada yang benar-benar baik maupun jahat dalam meraih kesuksesan…

    Sinopsis Yellowface

    June Hayward dan Athena Liu memulai karir menulisnya hampir bersamaan.
    Keduanya bersahabat dan lulus dari universitas bergengsi yang sama, tetapi kehidupan mereka berkembang ke arah yang berbeda.

    Athena Liu menjadi bintang baru dalam dunia sastra.
    Buku pertamanya meledak dan semua mata tertuju padanya.
    Sementara itu, June berjuang mati-matian untuk mempertahankan karir menulisnya yang merupakan cita-citanya sejak kecil.

    Akibat sebuah peristiwa yang tak terduga, hidup kedua sahabat ini berubah.
    June yang terdesak mengambil sebuah keputusan yang  membawanya pada kesuksesan sekaligus lingkaran kebohongan tak berujung.

    Kritik Tajam terhadap Industri Penerbitan

    Sekilas, Yelowface terlihat seperti novel yang membahas isu rasisme dan plagiarisme.

    Namun jika digali lebih lanjut, R.F Kuang sebenarnya sedang mengangkat isu yang jauh lebih kompleks.

    Lewat para karakternya, Ia mengupas sisi gelap dunia penerbitan: ambisi tak terkendali, rasisme sistemik, kebutuhan akan validasi, dan kekuatan media sosial.

    Yellowface memperlihatkan kepada pembacanya bahwa dunia penerbitan tidak jauh berbeda seperti dunia kerja lainnya. Orang-orang yang terlibat di dalamnya sama-sama berusaha bertahan, mencari pengakuan, dan mempertahankan eksistensi di tengah persaingan yang ketat.

    June Hayward dan Athena Liu : Dua Sisi Koin Oportunisme

    Karakter June digambarkan sebagai sosok yang baper, namun pandai menyimpan perasaannya.
    Tanpa Ia sadari hatinya menyimpan rasa iri kepada sahabatnya. Ia merasa dunia tidak adil padanya: agen yang buruk, editor yang kurang kritis, dan kesempatan yang tak kunjung datang.

    Tetapi Athena juga tidak digambarkan sesederhana korban yang tak bersalah.
    Melalui potongan-potongan cerita, pembaca dapat melihat bagaimana Athena menggunakan kesedihan dan luka di sekitarnya menjadi cerita yang menjual.

    Sepanjang halaman kamu akan dibawa pada  perdebatan moral tentang siapa yang salah, dan inilah yang membuat buku ini sangat menarik.

    Novel ini mengajakmu berpikir sekaligus menantangmu untuk bertanya pada diri sendiri, apa yang akan kulakukan jika berada pada situasi yang sama?…

    Di titik inilah R.F Kuang kembali mengutarakan kritik yang tajam tentang industri penerbitan, khususnya kepada penulis yang seringkali opurtunis— tapi bukankah kita semua juga demikian?

    Attention Economy: Saat Kebencian Mulai Menguntungkan

    10 tahun yang lalu kita mungkin tak akan menyangka jika kebencian bisa menjadi sumber penghasilan.

    Di Indonesia sendiri, kebencian bisa diubah menjadi lagu yang menghibur (you know what I mean, right?). Dan budaya cancel culture tidak berlaku untuk mereka yang good looking.
    Ironi memang, namun inilah yang sungguh terjadi akhir-akhir ini.

    R.F Kuang pun menyinggung soal ini dalam Yellowface.

    Jaman sekarang, seseorang tak hanya dinilai dari apa yang Ia lakukan, tetapi juga dari seberapa besar atensi yang Ia tarik.
    Setiap klik, komentar, unggahan, perdebatan, bahkan kemarahan publik memiliki nilai.
    Semakin ramai dibicarakan, semakin besar peluang keuntungan.

    Dan seringkali, kebencian justru lebih menguntungkan.
    Novel ini menjadi peringatan bagi kita semua, bahwa batas antara ketenaran, skandal, dan keuntungan semakin tipis. Dan ketika ‘perhatian’ menjadi tujuan, dimanakah posisi kita dalam memahami ‘kebenaran’?

    Refleksi :

    Pernah gak kamu ngerasa kalau ada satu buku yang spesial ditulis untuk kamu?
    Menurutku Yellowface adalah salah satunya.

    Pada bab-bab awal, ceritanya memang berjalan sangat lambat. Rasanya seperti mendengarkan curhat seseorang yang masalahnya itu-itu saja.
    Tapi lama-kelamaan ceritanya menjadi menarik karena pembaca diajak untuk berpikir dan menempatkan diri seperti tokoh-tokoh dalam cerita

    Mungkin saja, RF Kuang sebenarnya sedang menegur kecenderungan manusia modern yang haus validasi.
    Saat keberhasilan tak kunjung diraih dan rasa iri membuat dada perih, kita diajak untuk merombak kembali makna sukses yang selama ini kita tahu.

    Pada akhirnya Yellowface mengingatkan kita bahwa kesuksesan tidak selalu menghapus rasa tidak aman dalam diri seseorang.

    Akan selalu ada orang yang lebih terkenal… lebih kaya… lebih berbakat…
    Pertanyaannya adalah : saat prinsip dan moral dipertaruhkan, akankah kita memilih kebenaran meskipun diri yang menjadi korban?
     

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *